<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>IMAGINE</title>
	<atom:link href="http://imaginewebzine.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imaginewebzine.wordpress.com</link>
	<description>IMAGINEWEBZINE adalah suatu media alternatif yang menyajikan berita tentang musik,film,dan artwork lain yang keren (menurut kami tentunya). Berawal dari rasa frustasi menjadi bagian dari suatu media yang dikendalikan oleh orang yang berbeda visi, kami memutuskan untuk merintis media baru yang sesuai dengan kemauan kami dan gratis (tentunya).. Oke..Nikmati saja media ini.. Semoga saja bisa bermanfaat.. Best Regards (alf_rock &#38; amie_blues)</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Aug 2009 15:03:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='imaginewebzine.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>IMAGINE</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://imaginewebzine.wordpress.com/osd.xml" title="IMAGINE" />
	<atom:link rel='hub' href='http://imaginewebzine.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/12/49/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/12/49/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 15:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/12/49/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=49&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=49&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/12/49/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LEBIH BAIK BERLEBIH DARIPADA KEKURANGAN</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/12/lebih-baik-berlebih-daripada-kekurangan/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/12/lebih-baik-berlebih-daripada-kekurangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 08:57:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Sudah menonton Shine a Light? Jika belum,segeralah meluncur ke rental ataupun lapak VCD bajakan terdekat untuk membelinya. Sudahlah,lupakan saja tentang dosa menikmati barang bajakan. Pertanggungjawabkan saja nanti di akherat,jangan dipikirkan sekarang. Yang jelas,anda akan merasa lebih menyesal daripada sekedar menanggung dosa membeli barang bajakan jika tidak segera menontonnya. Film dokumentasi konser “The Rolling Stones” yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=35&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah menonton Shine a Light? Jika belum,segeralah meluncur ke rental ataupun lapak VCD bajakan terdekat untuk membelinya. Sudahlah,lupakan saja tentang dosa menikmati barang bajakan. Pertanggungjawabkan saja nanti di akherat,jangan dipikirkan sekarang. Yang jelas,anda akan merasa lebih menyesal daripada sekedar menanggung dosa membeli barang bajakan jika tidak segera menontonnya. Film dokumentasi konser “The Rolling Stones” yang ini terasa berbeda dengan film-film terdahulu seperti “Gimme Shelter”, “Ladies and Gentleman”, ataupun “Cocksucker Blues”. Karena apa? Jika di film-film terdahulu menampilkan “The Rolling Stone” versi muda, maka di film ini kita akan menyaksikan 4 orang kakek-kakek menggoyang panggung Beacon Theatre. Mick Jagger jelas membuktikan bahwa dia tidak kalah liar dengan Tria “Changcuters” yang bisa jadi 40 tahun lebih muda darinya. Begitu pula Keith Richard,Ron Wood, dan Charlie Watts yang membuktikan bahwa usia bisa dimanipulasi. Atau sudah ada yang mendengar album terbaru “God Bless”? Meski tak bisa dinikmati secara visual, tapi akan sangat terasa bahwa kakek-kakek itu masih punya energi yang berlimpah untuk membuat malu para anak muda yang berdendang “ C A minor D minor ke G”. Bandingkan dengan beberapa (mungkin juga hampir seluruhnya) band anak muda yang muncul belakangan ini. Saya merasa seperti ada yang kurang dan bahkan hilang. Entahlah,mungkin karena saya terlalu berlebihan. Tapi buat saya,lebih baik berlebihan daripada kekurangan. Orang-orang yang saya sebutkan di atas juga berlebihan. Berlebihan energi,berlebihan semangat, berlebihan dedikasi,dan berlebihan-berlebihan lain (tentu dalam konteks yang positif). Dan faktor berlebihan itulah yang menyebabkan mereka masih tetap mampu berkarya di usia senja. Bayangkan jika mereka kekurangan? Mungkin saat ini mereka akan menikmati hari tua dengan duduk di kursi goyang sambil berharap band anak muda sekarang tidak salah langkah seperti mereka. Mungkin kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik-lah yang menciptakan semacam doping biologis dari tubuh mereka. Ingat, Charlie Watt sempat divonis menderita kanker tenggorokan dan harus hidup di kursi roda selama bebrapa bulan. Donny Fatah, Achmad Albar &amp; Keith Richard juga sempat menjalani kehidupan hedonis yang jelas sangat berdampak negatif terhadap kesehatan mereka. Kalau sempat ada teori bahwa, terkadang kecintaan kita terhadap sesuatu bisa menimbulkan energi positif yang bisa menutupi kelamahan fisik, maka saya tak bisa membantahnya jika melihat fakta-fakta diatas. Lalu apakah para anak muda sekarang sudah kehilangan kecintaan mereka terhadap bidang yang mereka tekuni? Entahlah. Karena saya juga akan mengakhiri tulisan ini sampai disini saja. Pinggang saya tak akan bertahan lebih lama lagi jika saya masih akan terus duduk menghadap monitor untuk melanjutkannya. Maafkan saya&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=35&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/12/lebih-baik-berlebih-daripada-kekurangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedikit Tentang Pergerakan Musik Independent</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/sedikit-tentang-pergerakan-musik-independent/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/sedikit-tentang-pergerakan-musik-independent/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 14:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang musik indie, tentu akan selalu diwarnai oleh perdebatan tentang maksud kata indie itu sendiri. Ada yang berpendapat kalo indie adalah sistem distribusi musik yang mandiri. Ada yang mengatakan kalo indie adalah kebebasan untuk berkarya tanpa batasan. Ada juga orang-orang “pintar” yang berpendapat bahwa indie adalah aliran musik yang “gaul” (f*&#38;ck…I hate this word). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=33&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara tentang musik indie, tentu akan selalu diwarnai oleh perdebatan tentang maksud kata indie itu sendiri. Ada yang berpendapat kalo indie adalah sistem distribusi musik yang mandiri. Ada yang mengatakan kalo indie adalah kebebasan untuk berkarya tanpa batasan. Ada juga orang-orang “pintar” yang berpendapat bahwa indie adalah aliran musik yang “gaul” (f*&amp;ck…I hate this word).<br />
Indie berasal dari kata independent, yang artinya merdeka, bebas, tanpa tekanan,dll (whatever you say). Essensinya adalah sebuah karya musik yang diciptakan secara tulus, bebas, tanpa adanya tekanan dan embel-embel komersialisme. Sebuah bentuk perlawanan terhadap sitem mapan (major label) yang kerap kali membatasi kebebasan para musisi untuk berkarya dengan alibi bussines. Oleh karena itu, pergerakan indie tidak hanya sebatas pada proses kreatifnya. Tapi juga melebar pada sistem distribusinya.<br />
Dalam industri musik, indie label bukan cerita baru. Setidaknya bagi Amerika. Kita bisa menelusurinya ke paro pertama 1920-an saat industri rekaman didominasi “Columbia”, “Edison”, “Victor”, atau “ARC.” Kala itu, perusahaan-perusahaan kecil muncul menyeimbangkan keadaan. “Paramount”, “Okeh”, “Vocalion” dan “Black Patti”, adalah beberapa di antaranya. Sekalipun begitu, perlawanan indie label tak urung membuat banyak raksasa terluka, bahkan sebagian di antaranya tak sanggup lagi bertarung. “Edison” misalnya, meninggalkan gelanggang dan berkonsentrasi pada radio. Belum lagi “Columbia” yang diambil “CBS”, atau “Victor” yang dikuasai raksasa baru “RCA”. Untuk dua dasawarsa ke depan, terjadi transfer situasi yang menyisakan peluang bagi siapa pun untuk bermain. Baru pada paro kedua tahun 1940-an, peluang itu kembali menciut seiring kembalinya dominasi para raksasa. Sedikitnya ada enam raksasa yang saat itu memainkan perannya secara signifikan. Mereka adalah “Columbia”, “Victor”, “Decca”, “Capitol”, “MGM” dan “Mercury”.<br />
Di Indonesia sendiri, sebenarnya pergerakan musisi indie telah dimulai pada tahun 70an. Pencetusnya adalah seorang Benny Soebardja dengan band-nya yang bernawa “SharkMove”. Pada saat itu mereka telah memulai untuk merekam dan mendistribusikan album mereka sendiri. Distribusinya pun terbilang tidak lazim untuk saat itu. Mereka menjajakan kasetnya di pinggir jalan, emperan toko, butik baju (saat itu belum ada distro), bahkan menggelar stand di PRJ. Tak berapa lama kemudian, jejak mereka diikuti oleh band “Gypsi” (yang diantaranya beranggotakan alm. Chryse sebagai pencabik bass). Saat itu, mereka didukung penuh oleh majalah musik “Aktuil” yang dimotori oleh alm. Denny Sabri dan Remy Silado.<br />
Tetapi cetak biru untuk musik indie di Indonesia sendiri baru dimulai pada tahun 1993. Adalah 4 orang rocker Bandung bernama Richard Mutter , Beng Beng, Trisno, dan Yukie di bawah bendera “PAS Band” mengguncang industri musik Indonesia dengan mengeluarkan mini album berjudul “Four Through the SAP” yang dicetak sebanyak 5000 keping dan ludes terjual dalam hitungan minggu. Mereka merekam dan mendistribusikan album mereka sendiri. Konon biaya yang dihabiskan untuk ongkos produksi “hanya” sekitar 5 juta rupiah, hasil pinjaman dari teman bermain skateboard Richard. Ide untuk merilis album indie tersebut datang dari alm. Samuel Marudut. Beliau adalah Music Director Radio GMR. Salah satu radio di Bandung yang terkenal selalu mensupport kiprah band-band lokal. Setelah “PAS Band”, lalu mulai muncul band-band seperti “Puppen” ( dengan Marcell Siahaan sebagai drummernya, sebelum menjadi solois yang digilai para wanita), “Pure Saturday”, “Kubik”, “Tengkorak”, dan band-band keren lainnya.<br />
Di Jogjakarta sendiri, scene musik indie juga tidak kalah meriah dengan kota-kota besar lain. Tercatat kota ini pernah melahirkan band ska paling keren di Indonesia lewat jalur indie. Saat ini rasanya tak ada yang tak mengenal “Shaggy Dog”. Ada juga sebuah pagelaran musik bawah tanah bertajuk “Jogja Brebeg” yang telah menjadi batu loncatan band-band metal seperti “Death Vomit”, “Mortal Scream”, “Impurity”, dan “Brutal Corpse”. Dimulai dari sekitar tahun 1997 juga mulai bangkit band-band yang beraliran non mainstream seperti “Sabotage”, “Something Wrong”, “Black Boots”, “DOM 65”, dan “Teknoshit”. Untuk saat ini, tercatat nama-nama seperti “The Monophones”, “SKJ ’94”, “Oh Nina”, “Dubyouth Soundsystem”, “Southern Beach Terror”, dll yang sudah mulai menancapkan pamornya di scene musik indie nasional.<br />
Hampir semua dari nama-nama di atas memainkan musik yang non mainstream. Karena mungkin, bukan materi yang mereka kejar. Melainkan rasa nikmat, kepuasaan, dan kebanggaan ketika karya mereka terapresiasi. Dan itu lebih tak ternilai dari sekedar materi. Bahkan tak jarang, mereka merogoh dalam kocek mereka sendiri untuk membiayai proses berkarya. Seperti yang diceritakan oleh salah seorang mantan Roadies dari salah satu band diatas. Bahwa ketika band-nya akan masuk studio rekaman, dia juga ikut patungan untuk menutupi biaya. Semangat untuk berkarya itulah yang yang menjadi modal utama dari band-band yang memilih jalur indie (selain tentunya juga musikalitas yang matang).<br />
Tapi untuk saat ini, essensi dan semangat yang melandasi musik indie sudah mulai bergeser. Sebagian orang memandang istilah “indie” semakin biasa, karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band “indie” yang sell out, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau agar albumnya laris manis terjual ribuan keping. Sementara sebagian band lebih senang menggunakan idiom “indie” karena lebih elastis dan (misalnya) lebih friendly atau gaul. Banyak band-band baru yang muncul mengatasnamakan “indie” hanya dengan modal rambut poni miring, eyeliner, celana ketat, dan beberapa lagu yang mengumbar distorsi untuk menutupi skill mereka yang pas-pasan.<br />
Tapi kita patut berbangga menjadi warga negara Indonesia. Di tengan tren musik mainstream yang hanya mengumbar cinta dan notasi melayu nan mendayu-dayu, para musisi “indie” Indonesia justru mengukir prestasi di negeri orang. Contohnya “The S.I.G.I.T” yang sukses merilis albumnya di Australia dan menggelar Concert Tour selama sebulan penuh di benua kanguru. Atau “Goodnight Electric” yang menjadi headliner “Bangkok Music Festival” di Thailand. Masih ada lagi cerita tentang diundangnya “White Shoes &amp; The Couples Company” sebagai bagian dari festival tahunan “South by Southwest”. Salah satu festival musik terbesar di Amerika Serikat yang menampilkan lebih dari 1400 musisi dalam 4 hari. Diundangnya mereka tak lepas dari dilirisnya album mereka di negeri Paman Sam oleh salah satu label lokal disana. Keberangkatan mereka ke negeri Paman Sam memang tak mengundang kerumunan wartawan infotainment di bandara seperti ketika memberitakan para selebritis yang berangkat haji. Tapi itu tak jadi soal, karena memang yang mereka butuhkan bukan popularitas ataupun sorotan media.<br />
Untuk pendistribusian album, banyak band indie yang didukung oleh perusahaan/label yang mengkhususkan diri pada scene “indie” ( indie label, istilahnya). Sebut saja nama-nama seperti “Aksara Record” (“Sore”, “VOX”, “White Shoes &amp; The Couples Company”,dll), “Fast Forward Record”(“Teenage Death Star”, “The S.I.G.I.T”,dll), dan beberapa indie label lain yang rata-rata merupakan bentukan dari para pencinta musik yang mendedikasikan hidup mereka untuk kemajuan musik di Indonesia. Di indie label, para musisi diberi kebebasan untuk menghasilkan karya musik tanpa ada tekanan. Tidak seperti major label yang kerap kali melangkahi teritori musisi dalam berkarya demi mengejar keuntungan dengan cara mengikuti tren. Salah seorang teman yang band-nya tergabung di “Aksara Record” pernah bercerita. Satu-satunya pertanyaan dari si music director adalah, “Kalian suka The Beatles tidak? Kalo tidak suka, berarti kalian tidak cocok berada disini”.<br />
Jogjakarta sendiri pernah melahirkan netlabel pertama di Indonesia. Netlabel adalah sebuah label distribusi musik berbasis internet. Adalah Bagus Jalang dan Wok The Rock yang menggagas ide tersebut. Keduanya adalah aktivis dari “Mess 56” sebuah komunitas pencinta seni yang sering membuat proyek nirlaba demi kecintaan mereka pada seni. Band seperti “The Upstair”, “ Dubyouth Soundsystem”, dan “Armada Racun” pernah merilis lagu mereka di netlabel yang bernama “yesnowave.com” ini. Tak banyak uang yang harus dikeluarkan untuk mengunduh lagu-lagu di netlabel ini. Cukup beberapa ribu rupiah untuk ongkos warnet, kita sudah bisa pulang mengantongi lagu-lagu mereka. Juga salah satu alternative untuk memerangi pembajakan yang semakin lama semakin biadab.<br />
Meskipun para musisi indie bisa dengan bebas untuk berkreatif, masih ada beberapa tantangan nyata. Pertama adalah komoditifikasi indie. Banyak perusahan laba, menangkap booming indie dan sekedar memanfaatkannya sebagai alat promosi. Tak ada salahnya untuk sekedar bekerja sama, selama prinsip-prinsip indie tetap di tampilkan dalam setiap event. Menjadi salah jika prinsip-prinsip itu tak lagi diperhatikan. Contoh kasus sering muncul acara-acara seperti festival musik indie. Padahal secara essensinya, musik indie muncul bukan untuk diperlombakan. Karena ketika itu diperlombakan, akan ada pembatasan-pembatasan dalam berekspresi, akhirnya kesubjektifan tim penilai yang menjadi penentunya. Seharusnya penentu utama dalam musik indie adalah para musisi itu sendiri. Hal tadi sesuai dengan semangat Do It Yourself, yang dikibarkan oleh flower generation. Event yang dicreate dengan semangat kolektif dan berbasiskan kerjasama antar komunitas-lah, yang seharusnya dibuat oleh para pelaku musik indie. Event seperti ini bisa menjadi ajang promosi karya band-band indie tanpa ada embel-embel yang menyimpang. Tantangan yang kedua adalah kekonsisitenan dalam memunculkan budaya tandingan (counter culture). Sejarah musik selalu diwarnai dengan benturan-benturan antara budaya mainstream dan budaya tandingan. Indie sendiri adalah sikap atau idealisme yang sangat identik dengan budaya tandingan. Menjadi sangat di sayangkan jika produk-produk musik yang berasal (atau mengaku) dari dunia indie, menjadi serupa dengan produk budaya mainstream.<br />
Menurut salah seorang teman yang juga salah satu pioneer musik indie di Surabaya,kunci kesuksesan band-band indie adalah nalar eksplorasi musik yang tinggi, sehingga bisa menciptakan berbagai genre. Selain itu mereka mampu meramu lirik, yang boleh jadi berbeda dengan yang ditampilkan oleh band-band mainstream. Tradisi-tradisi untuk berempati, peduli, berkolektif dan sederet budaya positif lainnya harus direkam dalam lirik-lirik musik Indie, bukan hanya mengumbar hubungan lawan jenis. Semangat menciptakan atau mengeksplorasi hal-hal baru dalam bermusik, juga harus dipelihara oleh musisi-musisi indie. Sehingga generasi yang kelak muncul, sudah terbiasa dengan tawaran-tawaran alternatif dalam bermusik sejak dini.<br />
Kedua tantangan tadi yang harus terus menerus dijawab oleh musisi indie pada masa kini. Sehingga semangat memunculkan budaya tandingan tanpa embel-embel komersialitas, yang merupakan essensi utama pembentukan jalur Indie tetap terjaga. Mari kita bersama-sama mewujudkannya… &lt;alf_rock&gt;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=33&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/sedikit-tentang-pergerakan-musik-independent/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>4th Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Saatnya Para Pencinta Film Berpesta</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/4th-jogja-netpac-asian-film-festival-saatnya-para-pencinta-film-berpesta/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/4th-jogja-netpac-asian-film-festival-saatnya-para-pencinta-film-berpesta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 14:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Festival film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[4th Jogja-NETPAC Asian Film Festival Pesta akbar film Asia kembali digelar di kota ini. Pesta yang bertajuk “4th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (‘JAFF’)” ini diselenggarakan pada tanggal 4-8 Agustus 2009 di seputaran Taman Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia Perancis, beberapa kampung dan sekolah di Jogjakarta. Sebagai festival yang selalu mengangkat tema-tema sosial (themed festival), ‘JAFF’ hadir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=31&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">4th Jogja-NETPAC Asian Film Festival Pesta akbar film Asia kembali digelar di kota ini. Pesta yang bertajuk “4th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (‘JAFF’)” ini diselenggarakan pada tanggal 4-8 Agustus 2009 di seputaran Taman Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia Perancis, beberapa kampung dan sekolah di Jogjakarta. Sebagai festival yang selalu mengangkat tema-tema sosial (themed festival), ‘JAFF’ hadir di tahun pertama dengan memberi perhatian pada bagaimana sinema berperan di tengah krisis akibat bencana alam dan sosial yang menyebabkan perubahan di tengah masyarakat (“Cinema in The Midst of Crisis” – ‘JAFF’ 2006). kemudian bagaimana sinema dapat memberi ruang pertemuan simbolik berbagai komunitas yang mengalami dislokasi sosial akibat proses perubahan (“Diaspora” – ‘JAFF’ 2007), dan di tahun ketiga ‘JAFF’ hendak menegaskan kembali kekuatan sinema dalam menebarkan nilai-nilai keutamaan yang bersumber pada religiusitas serta ikut menyumbang bagi proses perubahan sosial (“Metamorfosa – ‘JAFF’ 2008). Tahun ini, ‘JAFF’ kembali hadir, dengan menyoroti perubahan-perubahan makna tanah air dengan mengusung tema besar HOMELAND.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Homeland tak hanya sekadar menjadi identitas sebuah  bangsa, tapi  juga menjadi ruang bagi migrasi kemanusiaan. Homeland juga menjadi ruang bagi kontestasi terus-menerus persoalan tapal batas, nasionalitas, dan status kewarganegaraan (citizenship). Karena itu, dengan mengangkat tema homeland, ‘JAFF’ mengajak para pecinta film dan semua kalangan untuk merenungkan kembali bukan hanya makna tanah air di tengah perubahan, tapi sekaligus menentukan titik pijak kita berhadapan dengan tanah air.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">‘JAFF’ tahun ini dibuka dengan film “ Merantau “ garapan Gareth H. Evans dan ditutup dengan film “Slingshot Hip Hop” garapan Jackie Reem Salloum. “Merantau“,berkisah tentang seorang dari Minangkabau, Sumatra Barat yang  menjalani budaya warisan nenek moyang mereka yaitu “Merantau,” menuju ke hiruk Jakarta sebagai sarana penempa mental dan pendewasaan demi, mendapatkan kesuksesan yang menciptakan nama besar saat mereka kembali ke kampung halaman. Slingshot Hip Hop merangkai cerita tentang kaum muda Palestina di Gaza, West Bank dan di dalam wilayah Israel yang menggemari Hip Hop dan menjadikannya sebagai alat untuk mengkritik kemiskinan, pembatasan penggunaan bahasa Arab dan pendudukan wilayah mereka.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Film-film yang diputar di ‘JAFF’ adalah film-film yang mungkin tidak mendapatkan tempat di bioskop karena dirasa tidak komersil, tidak menjual, atupun terlalu idealis (entah apa lagi istilahnya). Garin Nugroho yang menjadi pembicara sewaktu <em>press conference</em> mengatakan, “ Film Indonesia saat ini kebanyakan berorientasi ke televisi, dalam artian tema-tema yang diangkat tidak ada bedanya dengan sinetron. Pada ‘JAFF’ kali ini, akan diputar film yang menyelamatkan kualitas film bangsa ini, yaitu film ‘Blind Pig Who Wants to Fly’.”</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Seperti tahun-tahun sebelumnya, beberapa film akan masuk dalam sesi kompetisi untuk memperebutkan NETPAC Award, Golden Hanoman, Silver Hanoman, Geber Award, dan Blencong Award. Film-film yang akan masuk dalam kompetisi tersebut dipilih karena kekuatannya dalam mengangkat persoalan sosial, politik dan budaya yang diolah ke dalam tuturan sinematik yang membangkitkan permenungan dalam konteks masyarakat Asia.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Selain program-program primer-nya, ‘JAFF’ juga menggelar special event yang bertajuk ‘Open Air Cinema’ dan ‘Screening For Children’. Tahun ini ‘Open Air Cinema’ akan melaksanakan pemutaran di beberapa kampung seperti Badran, Omah Opak, dan Gendingan. Sedangkan program ‘Screening for Children’ akan dilaksanakan di Salam (Sekolah Alam) , SD Pringgokusuman, dan AWI ( Anak Wayang Indonesia).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Selain itu, ‘JAFF’ 2009 juga akan disemarakkan oleh berbagai komunitas film di Indonesia, seperti Carmen (Komunitas film Purwokerto), FFM (Forum Film MMTC), F2PB (Bandung), Koin (Jember), Lensa Mata (Malang), Matakaca (Solo), dan berbagai komunitas lainnya. Komunitas-komunitas ini akan berkumpul, berinteraksi dan saling mempresentasikan perkembangan komunitas-komunitas tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Seluruh program yang ada tersaji atas kerjasama ‘JAFF’ dengan beberapa lembaga seperti Taman Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia Perancis, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Lembaga Indonesia Perancis (Yogyakarta), LA Lights Indie Movie, Yayasan Umar Kayam, Museum Kolong Tangga dan berbagai komunitas film di Indonesia. Kerjasama dengan beberapa lembaga tersebut selalu di bangun ‘JAFF’ sebagai salah satu bentuk usaha agar ‘JAFF’ dapat dimiliki dan dinikmati oleh seluruh penikmat film Jogjakarta</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"> <em>disarikan dari press release 4th Jogja-NETPAC Asian Film Festival </em>&lt;alf_rock &amp; amie_blues&gt;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=31&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/4th-jogja-netpac-asian-film-festival-saatnya-para-pencinta-film-berpesta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pameran Tunggal Agus Suwage, &#8220;still crazy after all these year&#8221;.</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/pameran-tunggal-agus-suwage-still-crazy-after-all-these-year/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/pameran-tunggal-agus-suwage-still-crazy-after-all-these-year/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 13:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pameran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Agus Suwage adalah seniman kontemporer yang eksentrik. Pada sebagian besar karyanya, Agus Suwage lebih menyelami dunia lintas batas, antara dirinya dan orang lain, antara manusia dengan jenis makhluk lain, antara kerumitan dan kemudahan, antara yang biasa dengan yang luar biasa, antara netralitas dan paradoksal .Dan sejak lama ia telah meninggalkan pesan-pesan komunal ideologis (karya-karya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=28&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Agus Suwage adalah seniman kontemporer yang eksentrik. Pada sebagian besar karyanya, Agus Suwage lebih menyelami dunia lintas batas, antara dirinya dan orang lain, antara manusia dengan jenis makhluk lain, antara kerumitan dan kemudahan, antara yang biasa dengan yang luar biasa, antara netralitas dan paradoksal .Dan sejak lama ia telah meninggalkan pesan-pesan komunal ideologis (karya-karya dengan ide politik) dalam karya karena ia selalu merasa bahwa dirinya adalah orang yang cepat jenuh. Perasaan cepat jenuh inilah yang selalu mengikuti pergolakan media yang dipakainya pula. Beberapa kali juga karyanya tersandung kasus hukum yang masih menempatkan seni kontemporer dalam kajian satu sudut pandang yang terbatas oleh norma. Seperti ketika dia dipanggil oleh pihak kepolisian berkaitan dengan karya kolaborasinya dengan Davy Linggar yang menampilkan Anjasmara dan Issabel Yahya tanpa penutup selembar benang-pun di tubuhnya (meskipun pada organ-organ vital sudah sengaja dikaburkan).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Sebagian besar karya-karyanya justru menampilkan dirinya sendiri sebagai model. Terkadang hanya wajah yang ia bubuhi telinga berwarna merah, wajah yang ia tutup dengan sekuntum bunga, atau wajah yang pada bagian atas membentuk lidah api. Di sana ia memasang berbagai mimik, namun kebanyakan seperti setengah tersenyum atau menyeringai, atau meledek. Tampaknya ia tengah mempertanyakan sesuatu, atau sedikitnya meragukannya. Entah apa yang ada dipikirannya. Mungkin hanya Tuhan dan dia sendiri yang mengerti maksudnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Di usianya yang ke 50, Agus Suwage sudah mencapai level nyaman dalam status-nya sebagai seniman. Kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi. Meskipun banyak karyanya yang terlalu sulit untuk dicerna masyarakat awam,tapi jika itu adalah karya dari Agus Suwage, percaya saja bahwa itu pasti bernilai seni tinggi. Seperti beberapa karyanya yang dipajang di pameran tunggalnya yang bertempat di Jogja Nasional Museum (JNM). Pameran bertajuk &#8220;still crazy after all these year&#8221; yang berlangsung pada tanggal 1-31 Juli ini merangkum karya Agus Suwage selama periode 1985-2009.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Pameran yangmenampilkan 99 judul karya Agus Suwage (yang terdiri atas 41 judul karya lukisan, 34 judul karya instalasi, dan 24 judul karya gambar) ini mencoba untuk mencoba membuka ruang dialog dan apresiasi tentang karya seni rupa, seperti yang disampaikan oleh kurator pameran Enin Supriyanto. Agus Suwage terlihat nyaman bermain-main dengan wajah-wajah familiar yang diintrepetasikannya sesuai gayanya. Beberapa wajah vokalis (yang sepertinya adalah idolanya) dijadikan objek berkeseniannya. Tak ketinggalan juga wajah dari alm. Munir, alm. Kartini, alm. Chairil Anwar dan alm. Soeharto menjadi bagian dari karyanya yang berjudul “Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi” melengkapi satu instalasi seni berbentuk gerobak yang diisi penuh dengan puntung rokok.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Agus Suwage juga mengintrepetasikan persoalan representasi tubuh <em>crossgender </em>(yang buat sebagian orang normatif mungkin akan mendapatkan cap “pornografi”) dalam serangkaian gambar cat air yang berjudul “Pause Re-Play”. Suatu bentuk representasi dari bentuk tubuh yang luas dan kompleks,dari disakiti sampai bentuk <em>erotika. </em>Di beberapa karyanya, Agus Suwage juga bermain-main dengan tema yang gelap. Tema yang merupakan puncak eksistensi dan ketakutan bagi sebagian besar umat manusia, yaitu kematian. Tapi Agus Suwage berhasil menjadikan itu bukan sebagai ancaman ataupun doktrin religius yang akan membuat kita bergidik. Justru dengan menyaksikan itu,membuat akal logika kita berfikir bahwa sesungguhnya kematian itu merupakan hal yang sangat personal karena itu tergantung dari apa yang kita lakukan sewaktu kita masih hidup (contohnya adalah dengan mengurangi konsumsi kita terhadap rokok).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Agus Suwage telah memberikan kita pelajaran lewat pameran ini. Pelajaran tentang bagaimana kita menyikapi hal-hal kecil di sekitar kita yang kadangkala justru menjadi ambigu dan menimbulkan kebingungan dalam mengambil sikap. Tentu saja Agus Suwage mengajarkan ini dalam konteks yang “gelap”. Mengutip pernyataan seorang teman sesaat setelah selesai menyaksikan pameran ini, “shiitt.. Agus Suwage is a real dark side”. Tentu saja maksudnya adalah kata “gelap” dalam konteks yang positif. Itupun kalau masih ada yang bisa memandang “gelap” secara positif lepas dari koridor keagamaan dan norma. Karena proses dan <em>output </em>berkesenian tidak bisa dibenturkan dengan hal-hal seperti itu.  &lt;alf_rock &amp; amie_blues&gt;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=28&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/pameran-tunggal-agus-suwage-still-crazy-after-all-these-year/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pementasan Teater Tangga, ‘Cinta Persegi-Perjalanan Seorang Pelancong’</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/pementasan-teater-tangga-%e2%80%98cinta-persegi-perjalanan-seorang-pelancong%e2%80%99/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/pementasan-teater-tangga-%e2%80%98cinta-persegi-perjalanan-seorang-pelancong%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 13:33:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Panggung]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 06 Juli 2009 malam menjadi hari yang membanggakan untuk Teater Tangga. Berawal dari perbincangan sederhana yang memunculkan ide untuk membuat sequel dari pentas Celah-Perjalanan Seorang Pelancong (C-PSP), yang dipentaskan pada tahun 2008 lalu, maka terwujudlah sebuah pementasan Cinta Persegi-Perjalanan Seorang Pelancong, yang mengangkat tema “Perempuan Sekarang”. Tema yang sensitif—menurut mereka—(Teater Tangga.red) tapi menarik untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=25&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Senin, 06 Juli 2009 malam menjadi hari yang membanggakan untuk Teater Tangga. Berawal dari perbincangan sederhana yang memunculkan ide untuk membuat sequel dari pentas Celah-Perjalanan Seorang Pelancong (C-PSP), yang dipentaskan pada tahun 2008 lalu, maka terwujudlah sebuah pementasan Cinta Persegi-Perjalanan Seorang Pelancong, yang mengangkat tema “Perempuan Sekarang”. Tema yang sensitif—menurut mereka—(Teater Tangga.red) tapi menarik untuk selalu dibicarakan. “Persiapan kami hanya 2 bulan dan kesulitan atau kendala yang dihadapi gak jauh-jauh dari mewujudkan ide pada bentuk pertunjukkan dan pendanaan untuk teater yang kurang memadai . Ide ini keluar dari seluruh tim dengan model observasi dan ide digagas bareng.” ujar MN Qomarudin, sang sutradara. Lebih menarik jika melihat lokasi pentas yang memakai gedung pertunjukan LIP yang bisa jadi masuk hitungan mahal untuk ukuran pementasan teater yang tidak didukung oleh sponsor besar.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Tepat Jam 7 malam WIB, penonton yang masih ada di luar pun mulai dipersilahkan masuk ke dalam Theater LIP dan disambut oleh dentingan musik akustik dari Ruby band. Sebuah ide brilian dari Teater Tangga, memadukan pertunjukan teater dengan <em>music background </em>yang dibawakan secara <em>live </em>oleh band. Membuat kata “membosankan” yang identik dengan pertunjukan teater tidak mendapat tempat malam itu.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Adegan pembuka yang menampilkan sketsa <em>reality show </em>terlihat begitu memanjakan mata penonton yang sepertinya sudah bersiap untuk melihat sesuatu yang “berat”. Dan lagi-lagi, kata “pertunjukan berat” tidak berlaku untuk pementasan kali ini. Prolog cerita yang dibawakan oleh seorang pemain wanita ber-<em>style </em>seorang pelancong,mengantarkan penonton untuk memasuki inti pertunjukan yang bercerita tentang konflik keseharian wanita di kota besar. Jujur,meskipun ada beberapa bagian prolog yang tidak saya mengerti maksudnya, saya dan mungkin sebagian besar penonton yang hadir merasa dimanjakan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Pertunjukkan teater yang berlangsung selama satu jam dengan 2 sesi itu menjadi pertunjukkan Teater Tangga yang kesekian kalinya, dimana judul cerita yang diangkat pun merupakan Sequel dari cerita sebelumnya. Masih terasa semangat anak muda begitu kental disini, mengingat sebagian besar pemain maupun crew memang masih terhitung masih sangat muda dan mereka punya keinginan yang besar untuk berkarya. Terlihat dari dialog yang banyak menyatir kebiasaan anak muda kota besar yang bisa jadi mengingatkan para penonton dengan sinetron-sinetron murahan yang membanjiri tayangan televisi. Entah, ini adalah kesengajaan untuk menyindir atau justru karena latah mengikuti trend.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Dari pertunjukkan yang ada bisa terlihat bahwa Teater Tangga tidak mau terjebak dengan pertunjukkan teater yang terkesan kaku. Itu juga yang menjadi alasan konsep yang mereka tawarkan lebih modern dan mengangkat isu yang sehari-hari ada di sekitar kita. Selain itu, band yang jadi pengiring mereka pun bisa membaur menjadi bagian dari pementasan ini termasuk dialog-dialognya. Tak hanya <em>music background-</em>nya yang membaur, sebagian besar penonton juga ikut membaur dengan pementasan ini (meskipun beberapa dalam konteks yang negatif). Dimana, saat mereka menertawakan aksi yang dilakukan oleh teman-teman mereka, terdengar sangat berisik sehingga penonton yang lain sempat resah dibuatnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Sejam berlalu, Wanita yang membuka acara dengan prolog tadi, menutup dengan kata-kata bijak sebagai pesan dari pementasan. “Resiko”, apakah kita pernah memikirkan hal itu? Aku Tak pernah, dan mereka juga”.Ya, masih adakah dari kita yang berfikir panjang sebelum mengambil keputusan?</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">Lepas dari beberapa kesalahan tekhnis yang cukup mengganggu, lepas dari kurangnya antusias penonton (yang bisa jadi karena mereka datang atas undangan teman yang menjadi pemain), lepas dari jalan cerita yang terlalu sederhana untuk ukuran teater, bolehlah kita relakan dua jempol kita untuk mengacung sejenak atas semangat para anak muda ini&#8230; &lt;AMIE_BLUES&gt;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=25&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/pementasan-teater-tangga-%e2%80%98cinta-persegi-perjalanan-seorang-pelancong%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Launching Album ZOO,&#8221;Trilogi Peradaban&#8221;. Pelajaran tentang peradaban dari para jenius musik</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/launching-album-zootrilogi-peradaban-pelajaran-tentang-peradaban-dari-para-jenius-musik/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/launching-album-zootrilogi-peradaban-pelajaran-tentang-peradaban-dari-para-jenius-musik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 13:22:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Launching Album]]></category>
		<category><![CDATA[Panggung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[             Jogjakarta adalah kota dimana proses berkesenian mendapat tempat yang nyaman untuk bereksplorasi. Berbagai genre musik tumbuh dengan subur bagai jamur di musim penghujan. Tidak hanya genre-genre mainstream yang berkembang. Beberapa band yang jauh dari genre mainstream (yang bisa jadi terdengar aneh di telinga orang awam) juga berkembang disini. Salah satunya adalah adalah ‘Zoo’. Suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=11&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:100%;" align="justify"><img class="alignnone size-full wp-image-13" title="venue1" src="http://imaginewebzine.files.wordpress.com/2009/08/3757811048_e12b35eb75-300x225.jpg?w=450" alt="venue1"   /><img class="alignnone size-full wp-image-20" title="boxsetzoo" src="http://imaginewebzine.files.wordpress.com/2009/08/boxsetzoo2.jpg?w=450" alt="boxsetzoo"   /><img class="alignnone size-full wp-image-22" title="zoo52" src="http://imaginewebzine.files.wordpress.com/2009/08/zoo522.jpg?w=450" alt="zoo52"   /></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">             Jogjakarta adalah kota dimana proses berkesenian mendapat tempat yang nyaman untuk bereksplorasi. Berbagai <em>genre </em>musik tumbuh dengan subur bagai jamur di musim penghujan. Tidak hanya <em>genre-genre mainstream </em>yang berkembang. Beberapa band yang jauh dari <em>genre mainstream </em>(yang bisa jadi terdengar aneh di telinga orang awam) juga berkembang disini. Salah satunya adalah adalah ‘Zoo’. Suatu grup band berkonsep minimal instrumen yang terdiri dari bas, dram, vokal,serta tambahan berbagai alat musik etnik di beberapa lagu. Absen-nya instrumen gitar (yang merupakan bagian krusial untuk sebuah band) tidak berdampak pada tatanan musik yang mereka bangun. Bermodal <em>bassline </em>tebal yang bersenyawa dengan permainan drum yang tidak pernah berpatokan pada <em>pattern </em>standar sudah lebih dari cukup untuk menggetarkan gendang telinga. Mendengarkan musik mereka akan membawa sensasi <em>dejavu </em>dengan ‘Naked City’ yang berselingkuh dengan ‘Mike Patton’ di era eksperimental ‘Mr. Jungle’. Rumit, Jenius,tapi lokal (mengingat mereka banyak mengawinkan elemen pentatonis diatonis dari alat musik etnik).</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:100%;text-align:left;">Pada 14 Juli 2009, Zoo akhirnya merampungkan album penuh (LP) <strong>“</strong>Trilogi Peradaban’ yang resmi dirilis oleh netlabel pertama di Indonesia,<strong>‘</strong>Yes No Wave Music’ (YNWM). ‘YNWM’ adalah suatu netlabel yang berbasis web. Dikelola oleh seorang aktivis ‘Mess56’ bernama Wok The Rock. Suatu terobosan jenius di tengah semakin brutalnya pembajakan. LP ‘Trilogi Peradaban’ Berisi 22 lagu yang terbagi dalam 3 babak: ‘Neolithikum’, ‘Mesolithikum’, dan ‘Palaeolithikum’. Masing-masing babak mewakili konsep musik dan karakteristik tema yang khas. Sebelum ‘Trilogi Peradaban’, Zoo pernah merilis mini album (EP) pertama bertajuk &#8220;Kebun Binatang&#8221; di bawah bendera yang sama. Seperti halnya EP, album &#8220;Trilogi Peradaban&#8221; ini bisa didapatkan secara cuma-cuma alias gratis dengan cara mengunduh (<em>download</em>) dalam halaman ‘YNWM’.<span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span>Selain dirilis format digital, ‘Trilogi Peradaban’ juga dirilis fisik dalam bentuk <em>box-set</em> CD-R yang dijual jumlah terbatas, 100 kopi. Dengan &#8220;kemasan kolektor&#8221; dicetak dalam keping cd yang berbeda (3 cd), booklet 20 halaman, dan kotak kemasan yang terbuat dari kayu. <em>Merchandise</em> ini secara resmi mulai dijual saat peluncuran album.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:100%;text-align:left;">Launching album ini digelar pada 26 Juli 2009 jam 20.00 bertempat di ‘Kedai Kebun’. Dekorasi pertunjukan malam itu tersa begitu istimewa.<span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"> </span></span>Panggung dirancang supaya pengunjung bisa menonton film sambil mendengarkan musik secara bersamaan. Lampu temaram yang di-<em>set</em> sedemikian rupa menambah khusyuk prosesi musikal malam itu. Pada <em>background</em> panggung terdapat sebuah <em>giant screen</em> menampilkan film hitam putih tanpa narasi yang bertemakan peradaban manusia. Film ini merupakan hasil <em>remix</em> atas film ‘Baraka’. Rully Shabara Herman/Rully sang ujung tombak serangan “menggagahi” keyboard yang terletak di sudut kiri panggung, ia melafalkan sebuah intro yang mirip sebuah mantra sambil sesekali memainkan keyboard-nya. Kesan mistis mulai muncul disini. Beberapa penonton wanita juga mulai memasang muka ketakutan. Membuat para pria di samping mereka mulai berperan sebagai pahlawan yang siap sedia merelakan bahu untuk dipeluk. Lalu Bhakti Prasetyo/Bhakti (bassis) dan Obet (drummer) muncul untuk di belakang peralatan masing-masing. Sejurus kemudian mereka sudah berjibaku satu sama lain. Berkolaborasi dengan film bisu,menjadikan musik dari ‘Zoo’ seolah-olah menjadi <em>scoring. </em>Sungguh, suatu menu pembuka pertunjukan yang sangat menggiurkan.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:100%;text-align:left;">Malam itu ‘Zoo’ juga berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal Jogja. Seperti Didit dari ‘Cranial Incisored’, Nadia &amp; Dani dari ‘Armada Racun’ dan Adi Restyadi yang dengan gemilang memainkan biola-nya untuk mengimbangi kebisingan musik dari ‘Zoo’. Di tengah-tengah pertunjukan,sempat ada jeda yang diisi oleh dialog antara ‘Zoo’ dengan media dan penonton. Sebelum kemudian dilanjutkan ke sesi berikutnya yang diawali dengan jumawanya Rully memainkan jimbe sambil bertelanjang dada.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:100%;text-align:left;">Pertunjukan malam itu tidak memungut biaya untuk tiket masuk. Namun untuk masuk ke ruang pertunjukan, penonton diharuskan untuk menyerahkan sebuah daun yang telah tertulis harapannya sebagai &#8220;tiket tanda masuk&#8221;. Unik, daun ini nantinya dikumpulkan dan digunakan sebagai arsip Zoo untuk kepentingan visual di album selanjutnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:100%;text-align:left;">Pada pelataran depan venue juga menjual merchandise berupa <em>boxset</em> album dan kaos. Bagi pengunjung yang memiliki keterbatasan dana untuk membeli pernak-pernik Zoo, penonton bisa membawa kaos oblong sendiri untuk disablon di lokasi pertunjukan. Dengan ongkos Rp.5000,- semua media berbasis kain dapat berhias logo album terbaru Zoo. Setidaknya malam itu masih ada kesempatan untuk memperoleh sesuatu tanpa memberhalakan diri pada nominal mata uang. &lt;alf_rock&gt;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=11&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/launching-album-zootrilogi-peradaban-pelajaran-tentang-peradaban-dari-para-jenius-musik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imaginewebzine.files.wordpress.com/2009/08/3757811048_e12b35eb75-300x225.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">venue1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imaginewebzine.files.wordpress.com/2009/08/boxsetzoo2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">boxsetzoo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://imaginewebzine.files.wordpress.com/2009/08/zoo522.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">zoo52</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOMUNIKASI VISUAL MELALUI MURAL</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/komunikasi-visual-melalui-mural/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/komunikasi-visual-melalui-mural/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 13:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Street Art]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=8&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;text-align:left;">Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.</p>
<p style="margin-top:.49cm;margin-bottom:.49cm;text-align:left;"><span style="font-family:Times New Roman, serif;">Seni mural di Jogjakarta mulai berkembang akhir-akhir ini sebagai bentuk kegelisahan perupa pada perkembangan kota yang tidak menyediakan alternatif estetis bagi penghuninya, karena kota sudah dipenuhi oleh polusi, kebisingan, kekerasan, tidak teraturnya papan billboard, poster maupun pamflet di dinding yang sudah mengarah pada vandalisme. Kehadiran mural diharapkan dapat menciptakan komunikasi secara visual dengan lebih estetis pada masyarakatnya guna membentuk peradaban kota yang lebih baik melalui pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Mural seperti halnya keberadaan media seni rupa lainnya, belakangan ini semakin mendapatkan perhatian dari masyarakat luas yang awam terhadap perkembangan maupun keberlangsungan hidup seni rupa. Sejak berlangsungnya projek Mural Kota Jogjakarta yang diprakarsai oleh walikota setempat serta melibatkan seniman mural dari Jogja, Jakarta dan komunitas dari kota lain bahkan dari Amerika Serikat, masyarakat semakin terbuka terhadap seni rupa. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:left;">Ketika masyarakat yang awam di kampung-kampung Jogja juga diikutkan dalam proyek mural dengan cara melukis tembok-tembok kampung mereka sendiri yang tidak terpakai, maka sebenarnya ada usaha berkomunikasi antara seniman dengan masyarakat. Pada akhirnya, mural justru menjadi seni publik yang tidak hanya dimiliki oleh seniman mural saja, namun masyarakat yang tidak paham menggambar dengan indah pun dapat diikutkan dalam rangka keindahan kota ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:left;">Tingginya gempuran produk-produk kapitalisme publik, seperti pada pusat-pusat perbelanjaan atau mall yang membanjiri daerah menjadi keprihatinan di satu sisi, karena dengan demikian semakin mempersempit ruang publik sebagai media untuk saling berinteraksi. Konsumsi mata terhadap keindahan kota juga seakanakan dirusakkan oleh semakin banyaknya gedunggedung bertingkat, penempatan yang kurang tepat dari media-media beriklan. Belum lagi iklim tropis yang semakin rusak juga oleh efek rumah kaca, jalur hijau yang dipakai perkantoran, penebangan pohon untuk memberi ruang bagi gedung-gedung mewah dan bertingkat semakin mempersempit peluang masyarakat menikmati keindahan kota yang jauh dari kebisingan. Keterkaitan kultur kota, lingkungan dan mural itu sendiri bersifat antitesis. Apalagi bila disempitkan lagi menjadi keterkaitan antara seni rupa dan kota, maka hubungan yang saling menolak itu semakin terlihat. Bagi para perupa, tidak ada esensi seni yang bisa digali dalam kehidupan kota yang penuh warna namun kehilangan keasliannya. Bagi mereka kota tidak lebih dari semangat romantik yang tersisa. Karena itulah dalam menggali ide biasanya perupa membuat jarak dengan kota maupun kehidupan urban.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:left;">Di Jogjakarta, mural merebak di sekitar tahun 2003 seiring dengan gagasan konsep dari Apotik Komik (dikoordinasi oleh seniman publik Samuel Indratma) yang menghias kota dengan lukisan lukisan di tembok kota dan terlebih dahulu dipresentasikan di depan walikota Jogja. Beberapa seniman mural dari Amerika Serikat kemudian diundang untuk berpartisipasi dalam projek tersebut. Mural yang menghiasi Jogja dilakukan di beberapa lokasi, seperti di timur Mal Galeria, Jembatan Layang Tukangan, Jalan Perwakilan, Jalan Kleringan Stasiun Tugu dan sekarang meluas ke kampung-kampung, seperti di daerah Wirobrajan, Sayidan, Langenastran dan masih banyak lagi. Seolah-olah mural di Jogjakarta sudah menjadi identitas kota dalam memperindah lingkungannya. Dalam hubungannya dengan ruang publik kota, mural mencoba mengkritisi ruang publik kota yang telah menjadi ajang pertarungan berbagai macam kepentingan. Para seniman mural ini bermaksud untuk mengembalikan kembali ruang publik kepada masyarakat untuk dijadikan salah satu medium untuk merekatkan hubungan-hubungan sosial antar masyarakat.</p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:left;"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:left;"> Disarikan dari “BERKOMUNIKASI SECARA VISUAL MELALUI MURAL DI JOGJAKARTA”, Obed Bima Wicandra. &lt;alf_rock)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=8&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/komunikasi-visual-melalui-mural/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WELCOME IN IMAGINEWEBZINE</title>
		<link>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/welcome-in-imaginewebzine/</link>
		<comments>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/welcome-in-imaginewebzine/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 12:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imaginewebzine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imaginewebzine.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[IMAGINEWEBZINE adalah suatu media alternatif yang menyajikan berita tentang musik,film,dan artwork lain yang keren (menurut kami tentunya). Berawal dari rasa frustasi menjadi bagian dari suatu media yang dikendalikan oleh orang yang berbeda visi, kami memutuskan untuk merintis media baru yang sesuai dengan kemauan kami dan gratis (tentunya).. Oke..Nikmati saja media ini.. Semoga saja bisa bermanfaat.. Best Regads.. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=3&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong>IMAGINEWEBZINE adalah suatu media alternatif yang menyajikan berita tentang musik,film,dan artwork lain yang keren (menurut kami tentunya). Berawal dari rasa frustasi menjadi bagian dari suatu media yang dikendalikan oleh orang yang berbeda visi, kami memutuskan untuk merintis media baru yang sesuai dengan kemauan kami dan gratis (tentunya).. Oke..Nikmati saja media ini.. Semoga saja bisa bermanfaat.. </strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Best Regads.. (alf_rok &amp; amie_blues)..</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imaginewebzine.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imaginewebzine.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imaginewebzine.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imaginewebzine.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/imaginewebzine.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/imaginewebzine.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/imaginewebzine.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/imaginewebzine.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imaginewebzine.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imaginewebzine.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imaginewebzine.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imaginewebzine.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imaginewebzine.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imaginewebzine.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imaginewebzine.wordpress.com&amp;blog=8962056&amp;post=3&amp;subd=imaginewebzine&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imaginewebzine.wordpress.com/2009/08/11/welcome-in-imaginewebzine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f576798825e0aff16c380a1ba80ef3df?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imaginewebzine</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
